Sejarah Film Dokumenter Modern di Indonesia Pada Zaman Kolonialisme

John Grierson merupakan orang Skotlandia yang dipercaya merupakan orang pertama yang memperkenalkan istilah documenter secara ilmiah di Koran New York Sun pada tanggal 8 Februari 1926 dengan kutipan kalimat:

“A Creative Treatment Of Actuality” (perlakuan kreatif terhadap kejadian-kejadian aktual yang ada).

Definisi documenter dalam perjalanannya mengalami perkembangan, sejalan dengan perkembangan film documenter dari masa ke masa mulai dari bentuk yang sederhana hingga menjadi semakin kompleks dengan jenis dan fungsinya yang semakin bervariasi.

Sejarah Film Dokumenter Modern

Pengertian-pengertian film documenter beserta perkembangan penciptaannya juga dipengaruhi oleh ruang lingkup serta dinamika negara, ideology, teknologi, dan masyarakat dunia.

Sama halnya seperti di era 30-an, muncullah teknologi suara yang kemudian berkontribusi terhadap bentuk film documenter dengan teknik narasi dan iringan ilustrasi musik.

Pada era ini, film documenter mendapatkan dukungan secara besar-besaran dari pemerintah dan swasta.

Dukungan tersebut sudah barang tentu berimbas pada produksi film-film documenter secara besar-besaran dan film documenter sendiri juga mulai memiliki kepentingan yang beragam.

Seperti halnya Triump of the Will (1934) sebagai salah satu film yang berpengaruh karya Leni Riefenstahl, yang digunakan sebagai alat propaganda Nazi.

Begitu juga dengan film Olympia (1936) karya Rienfensthal berikutnya, juga memiliki fungsi yang sama dengan memperlihatkan superioritas bangsa aria ketimbang bangsa lain.

Di Amerika sendiri, film documenter di jadikan sebagai jembatan untuk menjawab era depresi besar, dimana pemerintah mendukung para pembuat film documenter melalui medium film di dorong untuk memberikan informasi seputar latar belakang penyebab depresi.

Keberhasilan film tersebut semakin mengukuhkan pemerintahan Amerika untuk mendukung produksi film documenter hingga perang dunia ke dua.

Dimana pemerintah Amerika terus memproduksi film-film propaganda yang mendukung perang bahkan hingga melibatkan pembuat film Hollywood papan atas seperti John Froad, Frank Capra, John Huston dan William.

Mereka diminta oleh pihak militer untuk memproduksi film-film perang dan sama halnya Capra dengan tujuh seri film documenter panjang dengan tajuk Why We Fight (1942 – 1945) dan dianggap sebagai seri film documenter propaganda terbaik yang pernah ada.

Era pasca perang dunia kedua, banyak pembuat film baru bermunculan, para pembuat film documenter senior seperti Flaherty, Vertov, serta gerson sudah tidak lagi produktif.

Kondisi dunia semakin aman dan damai dan semakin memudahkan film-film mereka di kenal dunia internasional.

Satu tendensi yang terlihat adalah documenter makin personal dan perkembangan percepatan teknologi juga memungkinkan mereka untuk melakukan inovasi teknik.

Tema documenter juga semakin meluas dan lebih khusus lagi seperti observasi sosial, etnografi, ekspedisi dan eksplorasi, seni dan budaya dan masih banyak lagi.

Film Dokumenter Indonesia dan Kolonialisme

Sejarah documenter di Indonesia di mulai oleh prakter kelam kolonialisme, Belanda memperkenalkan filmnya pada tanggal 5 Desember 1900 di belakang Hotel Indonesia, Jakarta, lima tahun setelah bioskop pertama lahir di Prancis.

Fil pertama di Indonesia ini adalah sebuah film documenter yang menggambarkan perjalanan Ratu Orlandi dan Raja Hertog Hendrik di kota Den Haag.

Saat itu banyak di produksi film-film documenter yang secara tujuannya di gunakan sebagai media propaganda.

Dalam hal ini film documenter bisa bersifat sebagai media saluran informasi, namun juga bisa memberikan pemahaman yang justru besifat manipulative terhadap fakta yang ada.

Pada 1905, fil Tiongkok mulai masuk melalui China Moving Picture. Dua film Tiongkok pertama adalah Li Ting Lang yang bercerita tentang revolusi di China dan Satoe Perempoean Yang Berboedi.

Di Indonesia sendiri untuk pertama kalinya film ini di produksi di tahun 1926. Selama 1926 – 1931 sebanyak 21 judul film di produksi.

Itulah bagaimana perkembangan film documenter di Indonesia pada zaman kolonialisme. Semoga artikel ini bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *